Gowa, Beritarepublik.com- Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku melaksanakan kegiatan Bertani On Cloud dengan tema “Hilirisasi Rimpang Jahe Merah: Produk Unggulan Kearifan Lokal”, sebagai upaya mendorong peningkatan nilai tambah komoditas pertanian berbasis potensi lokal, Kamis (18/12/2025).
Pelaksanaan Bertani On Cloud ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai proses hilirisasi jahe merah, mulai dari potensi budidaya, pengolahan pascapanen, hingga peluang pengembangan produk olahan bernilai ekonomi. Jahe merah dinilai memiliki prospek yang menjanjikan sebagai produk unggulan yang berbasis kearifan lokal dan berdaya saing.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi produk pertanian merupakan jalan cepat Indonesia untuk menjadi negara mandiri dan berpengaruh secara global, bahkan menjadi negara superpower.
“Hilirisasi merupakan kunci transformasi pertanian kita. Kalau ini bisa kita lakukan dalam 10 tahun ke depan, dengan komitmen kuat, maka Indonesia bisa menjadi negara superpower,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan bahwa Menteri Pertanian mendorong hilirisasi terhadap produksi pertanian yang sudah ada karena dinilai lebih efisien serta mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan menciptakan produk baru.
Kegiatan BOC kali ini dibuka oleh Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Teddy Dirhamsyah. Dalam arahannya ia menyampaikan bahwa jahe merah sebagai komoditas lokal memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan melalui optimalisasi produk olahan berbasis kearifan lokal.
"Hampir di seluruh daerah, dari Aceh hingga Papua, masyarakat mengenal jahe termasuk jahe merah. Namun selama ini, pemanfaatannya masih didominasi dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi, sehingga nilai tambah yang dihasilkan masih relatif rendah," sebutnya.
Oleh karena itu, lanjut Teddy, diperlukan upaya hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk serta kesejahteraan masyarakat.
"Upaya ini sekaligus menjadi peluang untuk mengangkat produk lokal yang sebelumnya hanya dikenal di daerah tertentu, agar dapat dikenal dan diterima secara nasional, termasuk sarabba sebagai minuman tradisional khas daerah," sebutnya.
Melalui kegiatan ini, Teddy berharap dapat menginspirasi serta memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan keterampilan dan pengetahuan peserta, khususnya dalam pengembangan komoditas berbasis kearifan lokal.
Sejalan dengan hal tersebut, kegiatan BOC ini menghadirkan Bagus Sarwono, Owner Sarabba Cika, sebagai narasumber yang membagikan pengalaman praktik hilirisasi jahe merah berbasis kearifan lokal.
Ia menjelaskan bahwa pengolahan jahe merah menjadi produk minuman tradisional seperti sarabba tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga memperluas peluang pasar serta memperkuat identitas produk lokal.
"Terdapat 4 manfaat hilirisasi jahe merah yaitu, meningkatkan nilai ekonomi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing produk dan memperkuat peran petani," terangnya
Dengan adanya kegiatan Bertani On Cloud ini, BBPP Batangkaluku mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendorong hilirisasi komoditas pertanian berbasis kearifan lokal. Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, pengembangan jahe merah diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan.
