PPPK Paruh Waktu: Doa, Ikhtiar, dan Harapan yang Menyala di Tengah Kepastian yang Dinanti -->

Archive Pages Design$type=blogging$count=7

PPPK Paruh Waktu: Doa, Ikhtiar, dan Harapan yang Menyala di Tengah Kepastian yang Dinanti

BERITAREPUBLIK.COM
30 Desember 2025

Soppeng, Beritarepublik.com, Di balik prosesi pelantikan 3.507 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu, tersimpan getar batin yang tak tertulis dalam berita resmi. 

Mereka yang hari ini berdiri dengan status baru, sesungguhnya sedang menanam harapan yang jauh lebih panjang dari sekadar administrasi kepegawaian. Rabu (31/12/2025). 

Harapan itu sederhana namun dalam: semoga suatu hari kelak status paruh waktu bertransformasi menjadi penuh waktu, dengan kepastian yang setara dengan angkatan sebelumnya—status yang bukan hanya sah secara hukum, tetapi juga menenangkan jiwa karena memiliki legalitas yang utuh dan berjangka panjang.

Manusia hidup di antara dua garis: ikhtiar dan tawakal. Para PPPK Paruh Waktu telah menuntaskan ikhtiarnya—mengabdi, bertahan, dan setia pada panggilan kerja di tengah keterbatasan. Kini, mereka menunggu dengan kesabaran yang sunyi, sambil menggantungkan harap kepada kebijaksanaan kebijakan.

Harapan itu tidak berdiri sendiri. Ia hidup di rumah-rumah sederhana, di wajah pasangan yang setia, di mata anak-anak yang menggantungkan masa depan. Bagi sebagian besar dari mereka, PPPK bukan sekadar status pekerjaan, melainkan tumpuan hidup, sandaran ekonomi, dan jalan menjaga martabat keluarga.

Karena itu, yang berharap bukan hanya 3.507 orang yang dilantik, tetapi ribuan keluarga dan handai taulan yang ikut menggantungkan doa. Dalam tradisi kearifan, harapan kolektif seperti ini bukan tuntutan, melainkan amanah sosial yang lembut namun bermakna.

Pemerintah, dalam perspektif ini, bukan sekadar pengelola kebijakan, tetapi penjaga keseimbangan antara aturan dan rasa keadilan. Mengakomodir harapan bukan berarti mengabaikan logika fiskal, melainkan mencari jalan tengah yang paling manusiawi, paling arif, dan paling berjangka panjang.

Kekuasaan yang bijak adalah yang mampu mendengar suara yang tidak berteriak. Dan harapan PPPK Paruh Waktu hari ini bukan teriakan, melainkan doa yang berjalan pelan, menunggu waktu untuk dijawab.

Semoga kebijakan ke depan menemukan jalannya. Sebab di balik angka dan status, ada manusia yang menggantungkan hidup, ada keluarga yang berharap tenang, dan ada pengabdian yang layak diberi kepastian. Di sanalah kebijakan menemukan makna tertingginya: bukan hanya mengatur, tetapi menenteramkan.

(Red)