Dari Krisis Iklim ke Swasembada: Prof. Jamaluddin Jompa Apresiasi Kepemimpinan Amran Sulaiman -->

Archive Pages Design$type=blogging$count=7

Dari Krisis Iklim ke Swasembada: Prof. Jamaluddin Jompa Apresiasi Kepemimpinan Amran Sulaiman

BERITAREPUBLIK.COM
07 Januari 2026

Poto ; Prof. Jamaluddin Jompa (jjj).

beritarepublik.com,Jakarta — Tokoh akademik terkemuka Prof. Jamaluddin Jompa memberikan apresiasi tinggi atas penganugerahan Bintang Jasa Pratama kepada Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman oleh Presiden Republik Indonesia. Dalam pernyataannya, Prof. Jompa menilai penghargaan tersebut bukan sekadar simbol formalitas negara, melainkan pengakuan terhadap sebuah prestasi besar yang lahir dari kerja keras, inovasi kebijakan, dan keberanian mengambil keputusan strategis.

“Penghargaan Bintang Jasa Pratama yang dianugerahkan kepada Bapak Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman adalah refleksi pengakuan nasional atas kontribusi luar biasa beliau dalam sektor pertanian,” ujar Prof. Jompa dalam keterangan persnya. “Prestasi ini bukan sekadar pencapaian angka produksi. Ini adalah langkah sejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju ketahanan pangan sejati.”

Analisanya menyoroti empat aspek besar yang menurut Prof. Jompa menjadikan capaian ini spektakuler.

*Pertama dalam Sejarah Republik*

Prof. Jompa menegaskan bahwa Indonesia baru pertama kali sejak berdirinya Republik secara konsisten mengumumkan capaian swasembada pangan di tengah dinamika populasi dan permintaan domestik yang jauh lebih besar dibandingkan era sebelumnya. “Swasembada beras pada akhir 2025 merupakan sejarah baru Indonesia. Jika dulu swasembada pernah dicapai, kini kita melakukannya dengan situasi demografis dan permintaan domestik yang jauh lebih kompleks,” ujar Prof. Jompa.

Menurut data pemerintah, cadangan beras nasional mencapai angka tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, dengan produksi padi nasional meningkat signifikan pada 2025 sehingga stok menyeluruh melampaui kebutuhan pokok domestik untuk jangka waktu tertentu, sebuah indikator kuat bahwa kebijakan produksi telah berada di jalur yang benar. Ini menjadi titik balik dari tren impor beras dan fluktuasi produksi selama puluhan tahun terakhir.

*Menghadapi Perubahan Iklim yang Dramatis*

Prof. Jompa juga memberi bobot penting pada fakta bahwa pencapaian ini terjadi di era perubahan iklim yang semakin tidak bersahabat dengan pola produksi pangan global. Gelombang panas, kekeringan ekstrem di beberapa wilayah, dan hujan berlebihan di lainnya telah menjadi tantangan baru bagi sektor pertanian.

“Perubahan iklim telah menjadi realitas yang tak terhindarkan. Sektor pertanian berada di garis depan dampaknya. Kesuksesan ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu beradaptasi dengan cepat melalui kebijakan yang responsif dan teknologi yang tepat guna,” kata Prof. Jompa. Ia menilai penggunaan teknologi pertanian modern, diversifikasi varietas tahan iklim, serta penyesuaian pola tanam telah memainkan peran penting dalam mewujudkan capaian ini.

*Mood Masyarakat dan Generasi Muda*

Salah satu tantangan struktural yang sering disebut sebagai hambatan terbesar adalah rendahnya minat masyarakat, terutama generasi muda, untuk terlibat di sektor pertanian. Prof. Jompa menyebut ini bukan sekadar soal persepsi kerja keras, tetapi juga tentang bagaimana pertanian diposisikan dalam narasi ekonomi dan sosial bangsa.

“Generasi muda kita memiliki energi kreativitas yang luar biasa. Namun, selama ini pertanian belum cukup menarik sebagai pilihan karir. Kita perlu terus mendorong sinergi antara pendidikan, teknologi digital, dan akses ekonomi agar generasi muda merasa bahwa pertanian adalah masa depan yang menjanjikan,” ujarnya.

Beberapa data sosial menunjukkan bahwa jumlah petani usia muda masih berada di bawah 10 persen dari total tenaga kerja pertanian, menunjukkan kebutuhan serius untuk regenerasi sektor ini melalui program yang relevan dan menginspirasi.

*Keterbatasan Lahan dan Masalah Irigasi*

Prof. Jompa juga menggarisbawahi tantangan klasik yang masih mengiringi sektor pertanian Indonesia: keterbatasan lahan subur dan jaringan irigasi yang seringkali tidak mencukupi. “Pencapaian swasembada ini didapatkan meskipun ada keterbatasan lahan fisik dan infrastruktur irigasi yang belum optimal di banyak daerah. Ini menunjukkan efektivitas kebijakan alokasi lahan, pemanfaatan teknologi irigasi, dan optimalisasi lahan produktif,” jelasnya.

Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa revitalisasi jaringan irigasi dan peningkatan efisiensi penggunaan air terus menjadi fokus strategis, terutama di kawasan rawan gagal panen dan alokasi air yang sempit.

*Harapan untuk Masa Depan*

Sebagai penutup, Prof. Jompa menyampaikan harapan besar agar keberhasilan ini menjadi landasan kuat menuju ketahanan pangan berkelanjutan. “Ini bukan puncak, tetapi momentum untuk terus memperkokoh ketahanan pangan Indonesia. Dengan dukungan teknologi, kebijakan pro-petani, dan partisipasi generasi muda, cita-cita kedaulatan pangan akan semakin konkret,” tegasnya.

Selain itu Prof JJ menambahkan bahwa sangat penting bagi perguruan tinggi menyokong apa yang dicapai oleh Kementerian Pertanian RI selama ini dengan riset dan inovasi. "Lalu hal yang sangat penting adalah, sokongan riset dan inovasi yang didrive melalui perguruan tinggi, agar apa yang dicapai oleh pemerintahan saat ini dalam hal swasembada pangan bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan, mengingat akan semakin kompleksnya tantangan yang kita akan hadapi ke depan" tutup Prof JJ.

(red)