SOPPENG – Nama Dedy, Sekretaris Jenderal PB Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng, menguat dalam diskursus kepemimpinan muda di Kabupaten Soppeng. Sosoknya dinilai memiliki kombinasi langka antara ketajaman intelektual dan keberpihakan yang konstruktif terhadap pembangunan daerah.
Dukungan itu salah satunya disuarakan oleh Andi Akbar, tokoh intelektual muda Soppeng, dia adalah presidium KAHMI Soppeng dan tercatat sebagai salah satu inisiator berdirinya IMPS komisariat Uniprima Sengkang,Kabupaten wajo. Menurutnya, kapasitas dan kedalaman pemahaman Dedy terhadap lanskap sosio-kultural Soppeng tidak perlu diragukan. “Cara pandangnya tidak reaktif, melainkan menawarkan kerangka solusi. Ini cerminan intelektual yang matang dan membumi,” tegas Andi Akbar.
Komitmen Dedy untuk tetap merawat dialektika dengan akar rumput tercermin dari konsistensinya membangun ruang diskusi. Pada bulan suci Ramadhan lalu, ia memilih warung kopi sederhana Ujung Teras salah satu warkop di watansoppeng yang merupakan tdmpat rujukan diskusi,ide dan gagasan sebagai lokus dialektika. Pilihan tersebut bukan tanpa makna; ia menegaskan bahwa gagasan besar harus diuji dalam percakapan yang egaliter bersama masyarakat.
Basis epistemik Dedy turut diperkuat oleh latar akademiknya tercatat sebagai mahasiswa pendoktoran di Universitas Hasanuddin. Lahir di Barata, Desa Marioriaja, Kecamatan Marioriwawo.Dedy merepresentasikan sintesis antara kecendekiaan akademik dan autentisitas kultural.
Perpaduan ini menjadikannya figur yang memiliki legitimasi moral dan intelektual dalam mengartikulasikan isu-isu strategis Kabupaten Soppeng di ruang publik.
Lebih jauh, Andi Akbar menyoroti keunggulan institusional PB IMPS di bawah atmosfer kepemimpinan seperti Dedy. “IMPS barangkali satu-satunya organda di Sulawesi Selatan yang tetap solid tanpa dualisme kepengurusan. Ini indikator bahwa mahasiswa Soppeng masih teguh memegang nilai dasar ke-IMPS-an, salah satunya _asseddingeng_ – semangat persaudaraan dan kesetaraan,” ujarnya.
Ia membandingkan dengan realitas organda kabupaten lain yang terfragmentasi. “Bone memiliki KEPMI dan Lamellong, Wajo dengan HIPERMAWA, Luwu dengan IPMIL. Dinamika dualisme itu nyata. Maka soliditas IMPS adalah capaian kultural yang patut dijaga, dan Dedy adalah salah satu penjaga nilai itu.”
Soliditas organisasi, kedalaman intelektual, serta keberpihakan pada nilai-nilai lokalitas menjadi modal sosial Dedy dalam menahkodai gerakan mahasiswa Soppeng. Kombinasi tersebut dinilai krusial untuk memastikan IMPS tidak hanya menjadi ruang kaderisasi, melainkan turut menjadi mitra kritis-konstruktif pemerintah daerah dalam mewujudkan visi Soppeng yang berkeadaban.
(Denonk)
