Digitalisasi Absensi: Dari Disiplin Pegawai ke Disiplin Anggaran?
SOPPENG — Katanya mau modernisasi, katanya mau disiplin. Eh, kok yang makin kencang malah wacana proyek dan pengadaan?
Digitalisasi absensi di lingkungan pemerintahan memang lagi digembar-gemborkan. Keren sih kedengarannya, serba online, serba canggih. Tapi publik mulai garuk-garuk kepala. Jangan-jangan yang didigitalisasi bukan kedisiplinan pegawainya, tapi cara bikin anggaran cair dengan lancar?
Padahal tujuan awalnya jelas,bikin aparatur lebih disiplin, akuntabilitas naik, pengawasan gampang. Tapi ya itu, “katanya”. Soalnya yang sekarang banyak disorot kok jumlah aplikasi, jumlah fitur, jumlah nol di belakang anggaran. Dampaknya ke pelayanan? Ah, nanti dulu.
“Digitalisasi penting kok, asal jangan kebablasan jadi proyek tahunan,” begitu suara publik yang mulai lantang.
Masyarakat sekarang nggak nanya lagi aplikasinya sudah jalan belum?. Mereka nanya yang lebih sadis: Emang pegawai jadi lebih disiplin? Layanan jadi lebih cepat? Atau cuma absennya yang pindah dari kertas ke HP?
Pengamat tata kelola pun ikut angkat bicara, tapi kayaknya suaranya kayak reminder yang sering diabaikan:
Mau digitalisasi? Silakan. Tapi ingat transparansi, efisiensi anggaran, evaluasi berkala, ukur manfaatnya, dan jangan lupa akuntabel.
Lengkap kan? Tinggal dijalankan. Atau… cuma jadi slide presentasi?
Yang paling lucu, publik sampai harus ngingetin,teknologi itu alat, bukan tujuan.
Masyarakat nggak butuh aplikasi yang “berjalan dengan lancar” kalau layanannya tetap jalan di tempat. Yang mereka mau cuma satu: pelayanan cepat, pelayanan enak, pelayanan kerasa manfaatnya.
Jadi buat para pengambil kebijakan, pesan dari bawah cukup sederhana:
Silakan digitalisasi, silakan modern. Tapi jangan sampai niat awalnya hilang ditelan kata “proyek”.
Karena kalau ujung-ujungnya digitalisasi cuma jadi lahan baru, ya namanya bukan reformasi birokrasi. Itu namanya ganti baju doang, isinya tetap sama.
"Ini adalah pandangan penulis berdasarkan dinamika yang berkembang di masyarakat Soppeng."
La denonk
