Etika Wakil Rakyat Ambruk: Rapat Stunting Jember Diduga Jadi Arena Main Game & Merokok -->

Archive Pages Design$type=blogging$count=7

Etika Wakil Rakyat Ambruk: Rapat Stunting Jember Diduga Jadi Arena Main Game & Merokok

BERITAREPUBLIK.COM
12 Mei 2026


Poto : Anas Sahroni
Anggota LBH PKC PMII Jawa Timur.


JEMBER – Jangan bicara soal amanah kalau kelakuan pejabatnya begini. 
Rapat DPRD Jember yang membahas stunting – isu gagal tumbuh anak yang menentukan masa depan satu generasi – justru diduga dinodai sikap tak pantas. Main game dan merokok di ruang sidang. Ini bukan lagi soal etika. Ini penghinaan telanjang terhadap penderitaan rakyat.

Sorotan publik kini menusuk tajam ke Achmad Syahri As Shiddiq, anggota DPRD Jember. Dugaan ini, jika benar, bukan "kekhilafan kecil". Ini tamparan untuk ribuan anak Jember yang perutnya lapar gizi. Ini bukti bahwa sebagian wakil rakyat sudah kebal malu.

Pejabat yang main HP saat rapat stunting harus sadar: stunting bukan data di PowerPoint. Stunting adalah anak usia 2 tahun yang otaknya tak berkembang karena kurang protein. Stunting adalah cita-cita yang mati sebelum tumbuh. Stunting adalah bom waktu kegagalan SDM Jember 20 tahun ke depan.

Lalu kalian perlakukan forumnya dengan main game? Merokok seolah itu ruang tamu pribadi? Di mana nurani kalian simpan? 

Kalau pembahasan masa depan anak saja kalian anggap remeh, publik berhak bertanya: *Kursi DPRD itu kalian duduki untuk siapa?* Untuk rakyat yang memilih, atau untuk ego dan kenyamanan kalian sendiri?

Jangan salahkan rakyat kalau akhirnya percaya bahwa keputusan yang kalian hasilkan lahir dari pikiran yang tidak fokus, tidak peduli, dan tidak serius.

Jangan pernah anggap remeh kelakuan di ruang rapat. Hari ini main game saat bahas stunting, besok tanda tangan anggaran sambil ngantuk. Hari ini rokok mengepul di forum resmi, besok kebijakan lahir setengah hati. 

Budaya permisif inilah yang membunuh program pemerintah. Anggaran triliunan untuk stunting akan jadi bancakan kalau mental pejabatnya mental pecundang yang tak bisa bedakan ruang sidang dengan warung kopi.

Kalau DPRD Jember membiarkan ini jadi "lumrah", maka jangan mimpi angka stunting turun. Yang turun cuma kepercayaan rakyat. Dan kepercayaan yang runtuh, harganya mahal.

Tuntutan Kami: Tak Ada Lagi Kompromi

Sebagai warga yang muak melihat wakil rakyat tak tahu diri, tuntutan kami jelas:

1. Achmad Syahri As Shiddiq Wajib Klarifikasi Terbuka. Hadapi publik. Jelaskan. Jangan sembunyi di balik klarifikasi basa-basi yang menghina akal sehat. Rakyat Jember tidak bodoh.
2. DPRD Jember Gelar Sidang Etik Live. Jangan selesaikan di ruang gelap. Siarkan. Biar rakyat jadi saksi. Transparansi harga mati. 
3. Jika Terbukti, Beri Sanksi Maksimal.Teguran lisan itu lelucon. Pecat dari AKD, potong gaji, publikasikan permintaan maaf. Tanpa efek jera, pelanggaran ini akan jadi tradisi.
4. Rakyat Jember Harus Mengunci Pengawasan.Foto, rekam, viralkan. Kekuasaan tanpa kontrol adalah jalan tol menuju arogansi. 

Ini bukan soal nama Achmad Syahri As Shiddiq. Ini soal standar. Ini soal marwah lembaga DPRD. Ini soal batas. Apakah kita rela amanah rakyat diinjak-injak oleh perilaku tak beradab di ruang yang digaji pakai pajak kita?

Kalau rapat stunting saja kalian jadikan ruang santai, maka jangan kaget kalau besok rakyat Jember turun ke jalan. Karena kesabaran publik ada batasnya.

Dan ketika kemarahan rakyat sudah meledak, tidak ada klarifikasi yang bisa memadamkannya.

beritarepublik.com