Ciputat, Beritarepublik.com,– Peran dakwah dalam merespons perubahan iklim dan memperkuat kesejahteraan masyarakat menjadi fokus utama dalam Workshop Dakwah Ekologis dan Rapat Kerja yang diselenggarakan Syiar Dai Indonesia (SDI) bersama Amanah Daya Nusantara (AYANA) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama RI, Ciputat, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Implementasi Dakwah SDI dan AYANA dalam Mewujudkan Kesalehan Ekologis dan Kesejahteraan Umat” tersebut dihadiri para dai, tokoh agama, akademisi, aktivis sosial, pegiat lingkungan, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Workshop ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran dakwah dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini, mulai dari persoalan lingkungan, ekonomi, hingga ketahanan sosial yang semakin dipengaruhi dampak perubahan iklim.
Direktur Program Amanah Daya Nusantara, Rully N. Amrullah, mengatakan bahwa perubahan iklim telah berkembang menjadi persoalan multidimensi yang dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat di berbagai sektor kehidupan.
Menurutnya, isu lingkungan tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri karena telah memengaruhi sektor pertanian, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, hingga kondisi ekonomi kelompok rentan.
“Dakwah ekologis bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga menjaga kehidupan, memperkuat masyarakat, dan melindungi generasi masa depan,” ujar Rully saat menyampaikan materi kepada peserta workshop.
Ia menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim saat ini semakin nyata melalui meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, perubahan pola musim, gangguan produksi pertanian, hingga meningkatnya risiko bencana yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Karena itu, diperlukan pendekatan dakwah yang lebih kontekstual sehingga nilai-nilai keagamaan dapat menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Rully menilai tokoh agama memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran publik karena memiliki kedekatan dengan masyarakat hingga tingkat akar rumput. Melalui jaringan dakwah yang luas, pesan-pesan mengenai pelestarian lingkungan dan pentingnya menjaga keseimbangan alam dapat disampaikan secara lebih efektif.
Dalam kesempatan tersebut, AYANA memperkenalkan pendekatan yang mengintegrasikan tiga pilar utama, yaitu teologi, ekonomi, dan ekologi. Pendekatan tersebut dirancang untuk membangun kesejahteraan umat yang berkelanjutan dengan menempatkan nilai-nilai agama sebagai landasan moral, penguatan ekonomi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat, serta pelestarian lingkungan sebagai upaya menjaga keberlangsungan sumber daya alam.
Melalui integrasi ketiga aspek tersebut, aksi iklim tidak hanya dipahami sebagai upaya mengurangi emisi karbon atau melakukan penghijauan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.
Selain itu, peserta workshop juga mendapatkan pemaparan mengenai konsep Faith-Based Climate Action atau aksi iklim berbasis nilai-nilai agama. Konsep tersebut dinilai memiliki relevansi tinggi di Indonesia yang memiliki modal sosial dan spiritual yang kuat melalui keberadaan berbagai organisasi dan lembaga keagamaan.
Pendekatan tersebut mendorong tokoh agama untuk berperan sebagai agen perubahan yang mampu meningkatkan literasi iklim, membangun kesadaran lingkungan, serta menggerakkan aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti berbagai dampak perubahan iklim yang semakin sering dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia. Meningkatnya frekuensi banjir, kekeringan, cuaca ekstrem, dan bencana hidrometeorologi lainnya menjadi perhatian bersama karena dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Para peserta menilai bahwa forum-forum keagamaan yang selama ini menjadi rujukan masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai ruang edukasi untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan secara lebih luas. Dengan pendekatan yang tepat, dakwah dinilai mampu membangun kesadaran sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Workshop tersebut juga membahas sejumlah program prioritas yang akan dikembangkan melalui kolaborasi SDI dan AYANA. Program-program tersebut antara lain Climate Leadership Lab bagi tokoh agama dan dai, pengembangan materi dakwah berbasis lingkungan, penguatan aksi komunitas, kampanye publik, serta perluasan kemitraan dengan media.
Selain itu, penguatan kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu agenda penting yang dibahas dalam kegiatan tersebut. Peserta menekankan pentingnya membangun kerja sama dengan organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga filantropi, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan media massa guna memperluas jangkauan serta dampak gerakan dakwah ekologis.
Menurut peserta, kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak diperlukan untuk mempercepat perubahan sosial dan membangun gerakan yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat secara lebih luas.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari peserta yang menilai dakwah ekologis merupakan pendekatan yang relevan dengan tantangan zaman. Selain memperkuat nilai-nilai keagamaan, pendekatan tersebut dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin terdampak oleh persoalan lingkungan dan perubahan iklim.
Melalui workshop ini, SDI dan AYANA berharap dapat mendorong lahirnya gerakan dakwah ekologis yang lebih terstruktur, berkelanjutan, dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, serta mendukung kesejahteraan umat.
Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim global, para peserta sepakat bahwa dakwah masa depan perlu hadir sebagai jembatan antara nilai-nilai agama dan kebutuhan masyarakat. Upaya menjaga lingkungan dinilai tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan dan masa depan generasi mendatang.
(Red)

